Jumat, 15 Juni 2012

kepada..

Kepada mimpiku, aku ingin kamu hadir untuk memotivasi tanpa embel - embel rasa ambisius.
Jadilah mimpi yang menyadarkan aku. 

Kepada hari - hariku yang akan kulalui,
aku ingin kalian mendewasakan aku.
Jadilah guru yang mengajariku tentang pahit - manisnya hidup.


Kepada perasaanku,
aku ingin kamu membuatku nyaman tanpa rasa kecewa dan prasangka buruk kepada siapapun atau apapun.
Jadilah suatu hal yang menyejukkan hati.


Kepada takdirku,
aku ingin kamu adil. Cukup itu saja.
Jadilah sesuatu yang terus berpihak pada yang benar.

Dan...

Kepada cintaku,
jangan arahkan panah yang kuberikan padamu ke orang yang salah. Kamu sangatlah indah jadi aku merasa satu kali cukup untuk selamanya.
Jadilah hal indah yang berkiblat tetap.


Terakhir,

kepada semua, turutilah perintahku sekali ini saja. Lakukan demi hidupku.

hati



Bila diibaratkan,
tempat di hati seorang manusia
luasnya seratus kali lapangan bola.
Bahkan lebih.

Karena,
didalamnya ada banyak tempat
untuk mereka yang hadir
ke dalam kehidupan orang itu.


Tempat - tempat itu terbuka
untuk siapapun yang mengambil peran
dalam hidup kita.
Apapun perannya.

 
Setiap ruang memiliki kunci.
Adalah hak untuk datang dan pergi.
Pertanda tempat itu bisa dijaga lalu bisa ditinggalkan.
Dan bukti bahwa ada kata mungkin ia kembali.

Kembali menempati...

Masing - masing tempat bukan untuk
dikontrakan, atau disewakan.
Sekali terisi,
kepemilikannya abadi

Itulah jawab dari tanya
mengapa setiap orang yang hadir dalam hidup kita
Tidak bisa dan takan tergantikan. 
Sekalipun sudah pergi...

sesuatu?

Ada sesuatu yang kuanggap berharga
Sesuatu diantara banyak "sesuatu"
yang tertinggal darimu

Sesuatu itu bisa membawaku masuk
Masuk menelusuri ruang dimana aku pernah berada
Ruang yang kau punya
Ruang sederhana yang memberi rasa bahagia
Dan menjaga perasaan itu

Katakanlah apa alasannya sesuatu itu masih bersamaku, katakan..
Apakah sebuah aba - aba untukku berjalan kesana lagi?
Ataukah perintah untukku memasuki ruang itu lagi?

Kugenggam sesuatu itu dan mulai berjalan kesana
Berjalan dengan bingung; Ingin berharap atau bersiap diri untuk kecewa
Apa lagi yang akan kutemukan disana?

Lalu aku sudah di depan ruang itu, sesuatu itu membantuku untuk membuka ruang itu
Ruang yang dulu sepenuhnya untukku, punyaku
Tak ada sedikitpun jejakku disitu. Sudah kau bersihkan semuanya.

Singkatnya, semua tanya telah terjawab
Mengapa aku masih memiliki sesuatu itu? Agar aku bisa masuk ke dalam ruang itu
Mengapa aku harus masuk kesana?
Mengapa?

Agar aku tahu bahwa tak ada lagi segala hal tentangku disana.

Ya, sesuatu itu adalah kunci hatimu
Dan ruang itu jelas adalah hatimu

Dan ini, kukembalikan sesuatu-mu...

perasaan, penyesalan dan penantian

Ini perasaan.
Perasaan yang mana akulah empunya.  Perasaanku.
Bukan perasaanmu (yang sudah hilang itu).
Aku tidak tahu apakah kamu tahu. Itu pikiranmu.
Pikiranmu (yang tidak bisa kumengerti itu), bukan pikiranku.
Sekali lagi, ini perasaan.
Perasaan yang menjelma sebagai diktator, karena ia mulai berkuasa dan berjalan sendiri dan memaksaku merasakan fase - fase tidak menyenangkan ini.
Perasaan yang tidak tahu apa maunya, kemana tujuannya, dan bagaimana harus memuaskannya.

Ini penyesalan. 
Penyesalan yang mana akulah tempatnya bersarang saat ini. Penyesalanku.
Bukan penyesalanmu (yang hanya sebatas kata itu).
Aku tidak tahu kenapa aku pasrah menjadi lemah.
Sekali lagi, ini penyesalan.
Yang diawali dengan kesadaran, bahwa ada yang salah karena ini diakhiri.
Ada yang salah karena kita mulai jalan sendiri - sendiri.
Ada.
Banyak.

Ini penantian.
Penantian yang sama dengan penantian - penantian pada umumnya ;
Ada rasa tidak sabar dan penuh harapan.
Seperti penantianku (untuk hidupku, bukan kamu).
Sekali lagi, ini penantian.
Aku menanti saat perasaanku berdamai dengan diriku.
Aku menanti saat penyesalan berbuah perbaikan - perbaikan.
Aku menanti saat..

..kamu tidak berhak lagi atas air mataku. Setetespun.