KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya, yang berjudul “Masalah Pengangguran di DKI Periode Tahun 2013”.
Karya ilmiah ini dibuat dengan observasi dan beberapa bantuan berbagai pihak untuk menyelesaikan karya ilmiah ini tanpa hambatan selama mengerjakan. Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya ilmiah ini .
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini tidak luput dari segala kekurangan dan kesempurnaan. Namun penulis telah mengusahakan yang terbaik bagi penulisan laporan ini. Oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.
Jakarta, 17 Maret 2014
Fenni Octafiyani
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengangguran di Negara-negara berkembang seperti
Indonesia, dalam pembangunan ekonomi di Negara seperti ini pengangguran yang
semakin bertambah jumlahnya merupakan masalah yang lebih rumit dan lebih serius
daripada masalah perubahan dalam distribusi pendapatan yang kurang
menguntungkan penduduk yang berpendapatan terendah. Keadaan di Negara-negara
berkembang dalam beberapa dasawarsa ini menunjukan bahwa pembangunan ekonomi
yang telah tercipta tidak sanggup mengadakan kesempatan kerja yang lebih cepat daripada
pertambahan penduduk yang berlaku. Oleh karenanya, masalah pengangguran yang
mereka hadapi dari tahun ke tahun semakin bertambah serius.
Pengangguran terjadi disebabkan antara lain, yaitu
karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari
kerja. Juga kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja. Selain
itu juga kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja. Fenomena
pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja,
yang disebabkan antara lain; perusahaan yang menutup/mengurangi bidang usahanya
akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif, peraturan yang
menghambat inventasi, hambatan dalam proses ekspor impor, dan lain-lain.
Penelitian Biro Pusat Statistik (BPS) membedakan
angkatan kerja menjadi penduduk yang bekerja dan penduduk yang mencari
pekerjaan atau dapat di sebut sebagai pengangguran terbuka. Pengertian BPS
tentang angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (10 tahun ke atas) yang
bekerja atau punya pekerjaan sementara tidak bekerja dan yang mencari
pekerjaaan. Sedangkan yang di maksud bukan angkatan kerja adalah penduduk usia
kerja yang kegiatannya tidak bekerja maupun mencari kerja. Mereka adalah
penduduk dengan kegiatan sekolah, menjurus rumah tangga tanpa mendapat upah dan
tidak mampu melakukan kegiatan seperti pension atau cacad jasmani.
Data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik
(BPS) ini sangat boleh jadi masih lebih rendah daripada kenyataan riil yang ada
di lapangan. Bisa saja dalam kenyataannya angka pengangguran di Indonesia masih
lebih tinggi dari data dan angka resmi itu.
1.2 Rumusan Masalah
Meski menyandang predikat sebagai kota besar
sekaligus Ibukota Negara, ternyata Jakarta masih menyimpan masalah serius.
Selain masalah kemacetan lalu lintas, tingginya jumlah penyandang masalah
kesejahteraan sosial (PMKS), dan buta huruf, Jakarta juga dihadapkan pada
masalah tingginya angka pengangguran. Buktinya, jumlah pengangguran di DKI
selalu meningkat setiap tahun. Hingga Agustus 2008 ini, pengangguran di Jakarta
berjumlah 543 ribu orang atau bertambah 998 orang dibanding tahun sebelumnya
yang berjumlah 542.002 orang. Penganggur itu rata-rata berusia 19 hingga 23
tahun.
Peningkatan jumlah pengangguran ini salah
satunya disebabkan oleh derasnya laju urbanisasi dari daerah ke Jakarta. Selain
juga diakibatkan banyaknya lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan pendidikan
ke perguruan tinggi. Kondisi ini tak pelak membuat Dinas Tenaga kerja dan
Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta bekerja ekstra keras. Deded Sukandar,
Kepala Disnakertrans DKI mengatakan peningkatann jumlah pengangguran ini bukan
hanya masalah Pemprov DKI saja, melainkan juga menjadi masalah
provinsi-provinsi lain di Indonesia. Bahkan sudah menjadi masalah nasional yang
juga turut dipikirkan oleh pemerintah pusat. Sebab, menurut Deded, tingginya
jumlah pengangguran di DKI disebabkan oleh tak terbendungnya laju urbanisasi dari
berbagai daerah ke Jakarta.
Saat ini, kata Deded, Disnakertrans sedang
memilah-milah dari jumlah 543 ribu pengangguran ini, mana yang memang asli usia
produktif yang menganggur asal Jakarta dan mana yang berasal dari luar Jakarta.
Pemilahan ini berguna untuk mencari pemecahan masalah yang tepat. Disnakertrans
juga berupaya menurunkan jumlah pengangguran hingga 20 persen di tahun 2008.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk
mengetahui seberapa besarnya pengangguran yang terjadi di Indonesia khususnya
Jakarta, serta untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menimbulkan
terjadinya pengangguran dan juga untuk mengetahui bagaiamana sikap pemerintah
dalam mengatasi pengangguran.
Selain itu tujuan penelitian ini juga untuk
melengkapi tugas sebagai tugas Softskill program Strata Satu (S1) Jurusan
Akuntansi.
1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan ini diharapkan dapat memberikan
manfaat bagi :
1.
Penulis
Karena dengan tugas ini dapat menambah pengetahuan serta wawasan
bagi si penulis mengenai masalah pengangguran.
2.
Masyarakat
Masyarakat juga dapat mengetahui penyebab apa saja yang
menimbulkan pengangguran serta masyarakat juga dapat bertindak langsung dalam
upaya mengatasi masalah pengangguran.
3.
Rekan-rekan Mahasiswa/i.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk yang ingin
mengetahui lebih dalam mengenai Masalah pengangguran. hasil penelitian ini juga
dapat dimanfaatkan dan dijadikan salah satu bahan masukan ataupun bahan
pertimabangan dalam kegiatan penelitian selanjutnya.
1.5 Metode Penulisan
Dalam melakukan penulisan ini, penulis memakai metode observasi
dengan membaca, mencatat serta melihat keadaan secara langsung maupun dari
pemberitaan media elektronik selain itu penulis juga mendapatkan informasi ini
melalui internet.
1.6 Sistematika Penulisan
Untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas
mengenai makalah ini, maka penulisan tugas makalah ini dikelompokan dalam 4
bab, yang dimana tiap-tiap bab membahas mengenai materi sebagai berikut :
o BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi mengenai latar belakang, perumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian serta sistematikan
penulisan.
o BAB II KAJIAN TEORITIS
Pada bab ini berisi mengenai pengertian serta faktor-faktor apa
saja yang menimbulkan terjadinya pengangguran dan Jenis pengangguran.
o BAB III PEMBAHASAN
MASALAH
Dalam bab ini dibahas mengenai berbagai masalah masalah dalam
pengangguran serta pemecahan solusi dalam masalah ini.
o BAB IV SIMPULAN DAN
SARAN
Penutup ini berisi mengenai Saran serta Kritik dan Daftar pustaka.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
2.1 Pengertian Pengangguran
Pengertian penganguran adalah sebutan untuk
suatu keadaan di mana masyarakat tidak bekerja. Menganggur adalah mereka yang
tidak mempunyai pekerjaan dalam kurun waktu seminggu sebelum pencacahan dan
sedang berusaha mencari pekerjaan dan ini mencangkup mereka yang sedang
menunggu panggilan terhadap lamaran kerja yang di ajukan atau sedang tidak
mencari kerja karena beranggapan tidak ada kesempatan kerja yang tersedia untuk
dirinya walaupun dia sanggup.
2.2 Keadaan Masalah
Pengangguran
Di Negara-negara berkembang seperti Indonesia,
dalam pembangunan ekonomi di Negara seperti ini pengangguran yang semakin
bertambah jumlahnya merupakan masalah yanglebih rumit dan lebih serius daripada
masalah perubahan dalam distribusi pendapatan yang kurang menguntungkan
penduduk yang berpendapatan terendah. Keadaan di Negara-negara berkembang dalam
beberapa dasawarsa ini menunjukan bahwa pembangunan ekonomi yang telah tercipta
tidak sanggup mengadakan kesempatan kerja yang lebih cepat daripada pertambahan
penduduk yang berlaku. Oleh karenanya, masalah pengangguran yang mereka hadapi
dari tahun ke tahun semakin bertambah serius. Lebih malang lagi, di beberapa
Negara miskin bukan saja jumlah pengangguran menjadi bertambah besar, tetapi
juga proporsi mereka dari keseluruhan tenaga kerja telah menjadi bertambah tinggi.
kebanyakan investor asing tidak mau menanamkan modalnya di Indonesia karena
biaya ekonominya sangat tinggi akibat masih kuatnya praktek Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme.
2.3
Jenis Pengangguran
Ø Jenis Pengangguran
Berdasarkan Penyebabnya.
o Pengangguran Normal atau
Friksional yaitu pengangguran sebanyak dua atau tiga persen dari tenaga kerja.
Para pengangguran ini tidak ada pekerjaan bukan karena tidak dapat memperoleh
kerja, tetapi karena sedang mencari kerja yang lebih baik. Dalam proses mencari
kerja baru ini untuk sementara para pekerja tergolong sebagai penganggur.
o Pengangguran Siklikal ,
misalnya : di Negara-negara produsen bahan mentah pertanian, penurunan ini
mungkin di sebabkan kemrosotan harga – harga komoditas. Kemrosotan ini
mengakibatkan perusahaan – perusahaan mengurangi pekerja atau menutup
perusahaannya.
o Pengangguran Stuktural,
di sebabkan oleh perubahan struktur kegiatan ekonomi . Wujudnya barang baru
yang lebih baik,kemajuan teknologi mengurangi permintaan atas barang tersebut,
biaya pengeluaran sudah sangat tinggi dan tidak mampu bersaing, dan ekspor produksi
industri itu sangat menurun oleh karena persaingan yang lebih serius dari
Negara- Negara lain. Kemerosotan itu akan menyebabkan kegiatan produksi dalam
industry tersebut menurun, dan sebagian pekerja terpaksa di berhentikan dan
menjadi penganggur.
o Pengangguran teknologi,
di sebabkan oleh penggantian tenaga manusia oleh mesin-mesin dan bahan kimia.
Di pabrik-pabrik ada kalanya robot telah menggantikan pekerjaan manusia.
Ø Jenis Pengangguran
Berdasarkan Cirinya
o Pengangguran Terbuka,
Pengangguran ini tercipta sebagai akibat pertambahan lowongan kerja yang lebih
rendah dari pada bertambahan tenaga kerja.
o Pengangguran
Tersembunyi, Pengangguran ini pada umumnya terjadi di sector pertanian atau
jasa. Contohnya banyak Negara berkembang terjadi bahwa jumlah pekerja dalam
suatu kegiatan ekonomi adalah lebih banyak dari yang sebenarnya di perlukan supaya
dia dapat menjalankan kegiatannya secara efisien. Misalnya pelayan retoran yang
lebih banyak dari yang di perlukan.
o Pengangguran bermusim,
Pengangguran ini terutama terdapat di sector pertanian atau perikanan. Pada
musim hujan penyadap karet dan nelayan tidak dapat melakukan pekerjaan mereka
dan terpaksa menganggur. Apabila dalam masa di atas para penyadap karet dan nelayan
tidak dapat pekerjaan lain maka terpaksa menganggur.
o Setengah Menganggur, di
sebabkan karena jam kerja mereka adalah jauh lebih rendah dari yang normal.
Mereka mungkin hanya bekerja satu hingga dua hari dalam seminggu atau satu
hingga empat jam sehari.
2.4
Kebijakan Pemerintah
Beberapa Tujuan Kebijakan Pemerintah
Ø Tujuan Bersifat Ekonomi
1.
Menyediakan lowongan pekerjaan dari tahun ke tahun
2.
Meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat
3.
Memperbaiki pembagian pendapatan
Ø Tujuan Bersifat social
dan politik
1.
Meningkatkan kemakmuran keluarga dan kestabilan keluarga, di dalam
suatu rumah tangga harus ada yang mempunyai pekerjaan guna memenuhi
kebutuhannya.
2.
Menghindari masalah kejahatan, karena semakin tinggi pengangguran
maka semakin tinggi kasus kejahatan.
3.
Mewujudkan kestabilan politik, dalam perekonomian yang tingkat
penganggurannya tinggi masyarakat sering kali melakukan demontrasi dan
mengemukakan kritik atas pemimpin pemerintah dan ini dapat menghambat kegiatan
ekonomi. Sebagai akibatnya perkembangan ekonomi yang terlambat berakibat
pangangguran memburuk.
2.5
Tindakan Pemerintah.
Tindakan pemerintah dalam mengatasi pengangguran.
Ø Mengurangi pajak.
Ø Mendorong lebih banyak
investasi membari subsidi.
Ø Meningkatkan taraf
kemakmuran masyarakat.
Ø Memperbaiki pembagian
pendapatan.
Ø Menghindari masalah
kejahatan.
Ø Menambah keterampilan
masyarakat.
BAB III
PEMBAHASAN MASALAH
3.1
Sikap Pemerintah
1.
Menangani Lapangan Pekerjaan.
Sikap Pemerintah pada saat bertambahnya para penganggur dan juga
manusia-manusia yang tidak berpendidikan yang menjadi salah satu penyebabnya.seharusnya
pemerintah membuka kursus untuk ketermpilan bagi masyarakat. Salah satunya ada
dengan meningkatkan peranan Balai Latihan Kerja (BLK).
2.
Keterampilan yang di sediakan.
Seperti menjahit, bengkel, tata boga, komputer, dan keterampilan
lainnya yang diperlukan oleh hotel, perusahaan motor bahkan instansi
pemerintahan daerah Setempat.
3.
Mutu Para Lulusan BLK.
yaitu memiliki keterampilan yang tidak kalah kualitasnya dengan
lulusan perguruan
tinggi. Buktinya mantan didikan BLK sudah ada yang diminta oleh
hotel-hotel
ternama, perusahaan garmen, dan instansi pemerintah yang
membutuhkan tenaga
kerja. Contohnya, sambungnya, di BLK Jakarta Timur. Dari 60 orang
yang
menempuh pelatihan kerja di sana, hampir 50 persen diminta
beberapa perusahaan
untuk menjadi pegawai mereka.
4.
Disnakertrans bekerja sama.
Cara lainnya, Disnakertrans juga membina kerja sama dengan
berbagai perusahaan
untuk mengadakan pelatihan keterampilan. Saat ini, Disnakertrans
telah mengadakan pelatihan kerja sama bengkel dengan Perusahaan Toyota Astra.
Dari hasil pelatihan tersebut, Toyota Astra akan melihat peserta didik yang
dinilai berkualitas baik lalu diajak bergabung untuk bekerja di perusahaannya.
3.2
Tingkat Penganguran
Terjadi karena Urbanisasi tidak bisa di tekan
ini terlihat pada setiap akhir tahun seusai labaran , Jakarta akan menampung
masyarakat yang dating dari provinsi lain.Untuk menekan arus urbanisasi, mantan
Walikota Jakarta Pusat ini menyatakan perlu kerja sama dengan pemerintah
provinsi lain. Dengan azas otonomi daerah, pembangunan di luar Jakarta harus
dapat diakselarasikan dengan di ibukota, sehingga tidak ada lagi warga yang
berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Karena di
daerahnya telah memberikan kesempatan pekerjaan yang lebih luas dari ibukota.
Ketidak Stabilan angka Pengangguran.
Salah satunya disebabkan jumlah pencari kerja lebih banyak dari
lowongan kerja yang ditawarkan dan penempatan kerja dari pencari kerja yang
dianggap memenuhi kriteria yang dipersyaratkan perusahaan-perusahaan.
3.3
Kepedulian Masyarakat.
Mengapa kita peduli terhadap angka-angka
tersebut?
Pertama, angka yang kurang akurat tidak akan menghasilkan
perumusan kebijakan yang tajam danlangkah-langkah penanganan yang saksama.
Kedua, masalah pengangguranberdampak luas terhadap kehidupan
sosial dan politik yang pada gilirannya akan memukul balik kestabilan
makro-ekonomi yang telah dicapai dengan susah payah.
3.4
Dampak Negatif dari Pengangguran
dan Penuntasanya
Seperti beragamnya tindakan kriminal, anak
jalanan, pengemis, prostitusi, perdagangan anak, aborsi, pengamen dan
sebagainya sudah menjadi patologi sosial atau kuman penyakit sosial yang
menyebar bagaikan virus kankeryang sulit diberantas. Penyakit sosial ini sangat
berbahaya dan menghasilkankorban-korban sosial yang tidak ternilai.
Menurunnya kualitas sumber daya manusia, tidak
dihargainya martabat dan harga diri manusia yang merupakan korbansosial dari penyakit
sosial ini sudah sangat merusak sendi-sendi kehidupankemanusiaan yang beradab.
Karena itu persoalah pengangguran ini harus secepatnya dipecahkan dan dicarikan
jalan keluarnya yang terbaik. Tentunya untuk menghilangkan pengangguran dalam
situasi kehidupan ekonomi Bangsa yang sedang morat-marit ini adalah sesuatu
yang tidak mungkin. Tetapi upaya mengurangi pengangguran bukanlah hal yang
mustahil.
Cara yang realistis dalam jangka pendek
mengurangi pengangguran adalah memberdayakan sektor informal, padat karya dll
disamping strategi jangka panjang seperti pemerataan wilayah pertumbuhan
ekonomi melalui kebijakan desentralisasi. Sector informal dinilai sangat
membantu menyerap orang-orang yang menganggur tetapi kreatif dan menjadi
peredam di tengah pasar global. Namun bukan berarti sektor formal diabaikan.
Jika ternyata sektor informal ternyata dapat menjawabi sebagian dari masalah
pengangguran yang dihadapi Bangsa kita, maka sudah waktunya sektor informal ini
didukung oleh pemerintah dengan menyiapkan anggaran. Anggaran ini bisa
digunakan untuk dijadikan modal pengembangan usaha ekonomis produktif bagi pekerja-pekerja
informal.
Keterbatasan mereka di dalam pendidikan sangat
mudah dijadikan alat
komoditas politik untuk melakukan berbagai konflik sosial di tengah masyarakat
Pengangguran erat kaitannya dengan kemiskinan dan kemelaratan.
Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar seperti
sandang, pangan dan papan menjerumuskan sebagaian besar manusia Indonesia ke
jurang kemelaratan. Tidak tercapainya pemenuhan kebutuhan ekonomi ini akan
menciptakan masalah-masalah sosial.
3.5
Sebab Langsung (Direct Causes).
Ada beberapa sebab langsung(direct causes)
terjadinya pengangguran besar-besaran di Indonesia yakni:
o Terjadinya Pemutusan
Hubungan Kerja.
o Kelangkaan Lapangan
Kerja.
o Pemulangan TKI ke Indonesia.
o Rasionalisasi karyawan
dll.
Sebab langsung ini pada saat yang sama menjadi
akibat dari sebab-sebab yang lain. PHK disebabkan oleh perusahaan bangkrut.
Perusahaan bangkrut disebabkan oleh karena kredit macet/tidak mampu mengangsur
pinjaman Bank. Kredit macet disebabkan oleh krisis ekonomi yang melanda bangsa
ini sejak tahun 1997. Krisis ekonomi disebabkan oleh krisis moneter(melemahnya
nilai rupiah terhadap dolar AS). Krisis moneter disebabkan oleh rusaknya
ekonomi Indonesia. Kerusakan ekonomi ini disebabkan oleh adanya mental korup,
kolusi dan nepotisme (KKN) yang menggurita dan sistematik pada semua lembaga
negara dan swasta. Budaya KKN ini disebabkan oleh pemerintahan yang kotor(tidak
bersih). Masih bisa dicari lagi sebab-sebabnya misalnya dekadensi(kemerosotan
moral).
3.6
Sebagai Pihak yang
Netral.
Kaum akademisi/intelektual atau LSM harus
menciptakan model-model penyadaran ini sebagai cara menjembatani (bridging the
gap) keadaan yang sekarang dengan keadaan yang diinginkan. Usaha
mengkomunikasikan segala hal yang bertujuan agar terbentuk pola pikir, pola
sikap dan pola tindak yang positip dalam rangka menciptakan kehidupan sosial
yang baik di kalangan para penganggur kurang terdidik ini harus dibangun dalam
konteks penghormatan terhadap martabat manusia(human dignity) itu sendiri.
Berbagai cara penyadaran dengan penggunaan audio
visual, slide, film,sangat membantu di dalam prosesnya sehingga tidak menimbulkan
kebosanan. Metode-metode ceramah dan bersifat menggurui harus dihindari mengingat
pesertanya adalah para penganggur yang kehilangan mata pencaharian.
Harus lebih banyak diskusi dan sharing
pengalaman untuk membangkitkan gairah mereka di dalam situasi-situasi sulit menghadapi
kerasnya kehidupan sebagai penganggur. Kondisi menganggur adalah kondisi dimana
segala-galanya hilang dan tercabut dari seseorang, bukan saja sumber nafkah,
tetapi juga recognition(pengakuan) dan harga diri. Kehilangan jati diri inilah
yang membuat orang yang menganggur akan
mengalami stress yang tinggi dan apabila tidak mampu dikendalikan maka akan
menjadi depresi yang mengarah kepada sakit mental atau gila. Karena pertimbangan
itulah maka proses penyadaran ini harus melibatkan banyak pihak termasuk para psikolog
dan psikiater. Bisa saja usaha penyadaran ini bagi sebagian besar penganggur
dirasakan membuang-buang waktu karena mereka harus mencari kerja untuk bisa
menghidupi anak istrinya atau keluarganya. Untuk mengatasi masalah ini,maka
upaya pertama (penyadaran) diikuti dengan upaya yang kedua yang lebih konkret
dan realistis yakni Pemberdayaan secara ekonomis dan social Penyadaran melalui
pembentukan sikap dan mental yang dilakukan pada tahap pertama di atas harus
diikuti dengan pemberdayaan tahap kedua yang lebih bersifat ekonomis dan
konkret. Kebutuhan para penganggur dan keluarganya dalam jangka pendek adalah
kebutuhan akan makan dan minum Pemenuhan kebutuhan dasar ini harus didahulukan
dan menjadi perhatian utama. Karena para penganggur berpendidikan rendah ini
sangat banyak maka mereka bisa disalurkan dalam kegiatan-kegiatan padat karya
yang bias mendatangkan upah bagi mereka. Bahkan menurut Bambang Widianto,
Direktur Ketenagakerjaan dan Analisis Ekonomi Bappenas9, lima tahun ke depan
negara ini masih harus mengembangkan industri padat pekerja dan sangat tidak
mungkin beralih ke teknologi modern karena struktur angkatan kerja, pekerja dan
pengangguran terbuka menurut pendidikan masih didominasi oleh tamatan Sekolah
Dasar (SD) ke bawah. Tenaga-tenaga para penganggur kurang terdidik ini bisa
dimanfaatkan di kegiatan-kegiatan padat karya sehingga mereka bisa mendapatkan
kembali harga dirinya yang telah hilang oleh karena terkena pemutusan hubungan
kerja atau karena tidak adanya ketrampilan di dalam bekerja.
3.7
Upaya Memecahkan Masalah
Penganguran
Abraham Maslow menyebut 5 kebutuhan manusia dalam 5 tingkatan
hierarkis yaitu:
1.
kebutuhan akan makan, minum dan pakaian.
2.
kebutuhan akan keselamatan, keamanan.
3.
kebutuhan akan rasa memiliki atau sosial.
4.
kebutuhan akan penhargaan dan
5.
kebutuhan akan aktualisasi diri.
Alderfer
memformulsikannya menjadi tiga dan disebutnya ERG
1.
kebutuhan akan Eksistensi.
2.
kebutuhan akan Relatedness (hubungan) dan
3.
kebutuhan akan Growth (pertumbuhan)
meliputi penghargaan,
aktualisasi diri.
Ultimate goal Masyarakat
sejahtera Masyarakat bermartabat Negara kuat.
Goal/core objective
Upaya intervensi tdk ada
PHK tersedianya TKI dibutuhkan ekspansi usaha
lapangan kerja langsung upaya intervensi Perusahaan pertumbuhan demand terhadap TKIefisiensi usaha tinggi maju ekonomi tinggi tak langsung kredit lancar aktivitas ekonomi lancar TKI pintar, trampil ekonomi membaik stabilitas moneter bersih dari KKN bersih.
lapangan kerja langsung upaya intervensi Perusahaan pertumbuhan demand terhadap TKIefisiensi usaha tinggi maju ekonomi tinggi tak langsung kredit lancar aktivitas ekonomi lancar TKI pintar, trampil ekonomi membaik stabilitas moneter bersih dari KKN bersih.
Seperti terlihat pada
tujuan di atas, ada sejumlah elemen yang menjadi faktor penentu ada tidaknya
pekerjaan baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung seperti:
1.
tersedianya lapangan kerja.
2.
dibutuhkannya Tenaga Kerja Indonesia(TKI) di luar negeri.
3.
adanya ekspansi usaha.
4.
adanya jaminan bahwa tidak ada pemutusan hubungan kerja dan
sebagainya.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Pengangguran di Indonesia yang telah mencapai puluhan juta orang
merupakan suatu masalah yang mendesak yang harus segera dipecahkan karena dampak
pengangguran itu akan sangat berbahaya bagi tatanan kehidupan sosial. Fakta
bahwa berbagai kejahatan sosial seperti pencurian/penodongan/perampokan,
pelacuran, jula beli anak, anak jalanan dan lain-lain merupakan dampak dari
pengangguran. Dilihat dari dampaknya yang luas terhadap tatanan kehidupan
sosial, pengangguran telah menjadi kuman penyakit sosial yang relatif cepat
menyebar, berbahaya dan beresiko tinggi menghasilkan korban sosial yang pada
gilirannya menurunkan kualitas sumber daya manusia, martabat dan harga diri
manusia.
4.2
Saran
Karena itulah maka melalui strategi komunikasi pembangunan,
kebijakan-kebijakan jangka pendek dan jangka panjang yang realistis mutlak
dilakukan agar angka pengangguran dapat ditekan/dikurangi.
Dengan kebijakan yang langsung menyentuh permasalahan
pengangguran, maka penyebab dari berbagai patologi sosial yang dialami
masyarakat saat ini dapat dikurangi.
Berbagai masalah sosial perkotaan yang meresahkan masyarakat saat
ini
berakar dari kesulitan hidup atau kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh
ketiadaan
sumber hidup (pekerjaan).
DAFTAR PUSTAKA
1. Conyer Diana, 1994.
Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga. Yogyakarta :
Gajah Mada University Press.
2. John Naisbit dan Patricia A. Delapan Jalan Menuju Perubahan.
Gramedia, 1993.
3. Jelamu Ardu Marius. Dilema Pembauran Golongan Minoritas Cina.
4. Harian Kompas, 25 Oktober 2003.
5. Harian Kompas, 10 September 2003
6. Harian Kompas, 27 September 2003.
7. Harian Pos Kupang, 20 Juni 2003.
8. Suarapublika, Novermber 2003.
9. Undang-Undang Otonomi Daerah No. 22 tahun 1999
10. Buku Makro Ekonomi ‘Teori Pengantar’ Edisi ketiga, Sukirno,Sadono Penerbit
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
11. Buku Ekonomi Pembangunan, Prayitno, Hadi . Penerbit Ghalia Indonesia
12. Dok./ Beritajakarta.com
13. WWW.Google.com
14 Kompas Kamis 5 Februari 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar